Bank Indonesia Klaim KLM Efektif Turunkan Suku Bunga Kredit

Jumat, 20 Februari 2026 | 13:59:33 WIB
Bank Indonesia Klaim KLM Efektif Turunkan Suku Bunga Kredit

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa transmisi kebijakan suku bunga ke sektor perbankan mulai menunjukkan hasil nyata. 

Hal ini tercermin dari penurunan suku bunga kredit baru yang mencapai 75 basis poin (bps), lebih tinggi dibanding kredit existing yang turun sekitar 40 bps.

Deputi Gubernur Senior BI, Destri Damayanti, menjelaskan bahwa bank sentral mengoptimalkan transmisi kebijakan melalui dua jalur dalam Kredit Likuiditas Moneter (KLM), yakni lending channel dan interest channel. Skema ini dirancang untuk mempercepat efek pelonggaran moneter agar lebih cepat terasa di masyarakat dan sektor usaha.

“Kalau kita lihat suku bunga kredit sekarang, yang existing memang turun sekitar 40 basis poin. Tapi yang baru itu turunnya sudah mencapai 75 basis poin,” ujar Destri.

Total Insentif dan Pemanfaatan Skema KLM

Sejak diterapkan, total insentif KLM yang telah disalurkan mencapai Rp427,5 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp357,9 triliun dimanfaatkan melalui lending channel, yaitu insentif bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor strategis dan prioritas, seperti sektor padat karya, hilirisasi industri, serta perumahan.

Sementara itu, skema interest channel, yang relatif baru diperkenalkan, telah terealisasi sebesar Rp69,6 triliun. Skema ini memberikan insentif langsung kepada bank yang secara konsisten menurunkan suku bunga kreditnya. Pendekatan ini dianggap lebih terukur karena mendorong bank menyesuaikan tarif kredit secara nyata, bukan hanya menyalurkan volume pinjaman.

Menurut Destri, kebijakan ini menunjukkan transmisi moneter mulai berjalan lebih efektif setelah BI memangkas suku bunga acuan sebesar 125 bps sejak 2025. Penurunan tersebut diharapkan memperkuat daya beli masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Ruang Optimasi dan Target Penyaluran Kredit

Saat ini, pemanfaatan KLM tercatat sebesar 4,83% dari Dana Pihak Ketiga (DPK). BI masih memiliki ruang hingga 5,5%, karena insentif tersebut berasal dari relaksasi Giro Wajib Minimum (GWM). 

Dengan demikian, masih tersedia ruang sekitar 0,7% untuk mendorong bank meningkatkan penyaluran kredit maupun menurunkan suku bunga kredit lebih lanjut.

BI menegaskan bahwa ruang ini akan dimanfaatkan untuk memperkuat transmisi kebijakan, khususnya untuk mendukung sektor-sektor yang memiliki dampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi. 

Destri menekankan pentingnya bank menyalurkan kredit ke sektor yang strategis dan padat karya untuk menciptakan efek multiplier yang signifikan.

Fokus pada Sektor Strategis dan Pertumbuhan Ekonomi

Kebijakan KLM bukan hanya mendorong penurunan suku bunga, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi. BI mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor padat karya, hilirisasi industri, serta perumahan.

Pendekatan ini dipandang mampu memberikan dampak ganda: menurunkan biaya kredit bagi debitur, sekaligus mendukung pembangunan infrastruktur dan pengembangan industri domestik. 

BI berharap bahwa sinergi antara bank sentral dan perbankan dapat mempercepat pertumbuhan kredit yang inklusif dan merata ke berbagai sektor strategis.

Selain itu, melalui kombinasi lending channel dan interest channel, BI berharap transmisi kebijakan moneter bisa lebih cepat terasa di lapangan, terutama pada kredit baru, yang menjadi tolok ukur efektivitas kebijakan.

Prospek Kredit dan Stabilitas Sektor Perbankan

Peningkatan penyaluran kredit melalui KLM juga menjadi indikator bahwa sektor perbankan mampu menyesuaikan diri dengan kebijakan moneter yang adaptif. 

Dengan insentif yang tersedia, bank memiliki motivasi untuk menurunkan suku bunga secara kompetitif, tanpa mengorbankan kualitas aset maupun kesehatan perbankan.

Destri menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat berkelanjutan. BI akan terus memantau penyaluran kredit dan efektivitas transmisi suku bunga agar sektor perbankan tetap stabil dan pertumbuhan ekonomi terjaga. 

Dukungan ini penting terutama di tengah tantangan inflasi global, volatilitas harga komoditas, serta kebutuhan pembiayaan sektor produktif domestik.

Dengan skema KLM, bank sentral berharap kredit baru dapat meningkat, suku bunga turun, dan sektor usaha mendapatkan akses pembiayaan yang lebih terjangkau.

Strategi ini diharapkan mampu memperkuat konsumsi domestik, mendorong investasi, serta meningkatkan lapangan kerja melalui penyaluran kredit yang lebih luas.

Skema KLM yang diterapkan BI menjadi instrumen strategis untuk mempercepat penurunan suku bunga kredit baru sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. 

Kombinasi lending channel dan interest channel memastikan bank terdorong untuk menyalurkan kredit ke sektor prioritas, menurunkan biaya pinjaman, dan meningkatkan akses pembiayaan bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Penurunan suku bunga kredit baru hingga 75 basis poin menjadi bukti bahwa transmisi kebijakan moneter mulai efektif. 

Dengan pemanfaatan KLM yang masih bisa dioptimalkan, BI memiliki ruang untuk mendorong penyaluran kredit lebih luas, mendukung pembangunan sektor padat karya, hilirisasi industri, dan perumahan, serta menjaga stabilitas sektor perbankan nasional.

Terkini