Menguak Asal-usul Dubai Chewy Cookie, Tren Manis Garapan Korea Selatan

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:11:34 WIB
Menguak Asal-usul Dubai Chewy Cookie, Tren Manis Garapan Korea Selatan

JAKARTA - Jagat media sosial kembali diguncang oleh fenomena kuliner baru yang menggugah selera. Jika sebelumnya dunia sempat terobsesi dengan Dubai Chocolate yang mewah, kini muncul penerus takhtanya yang disebut sebagai "Dubai Chewy Cookie". Menariknya, meski menyandang nama "Dubai", mahakarya pencuci mulut (dessert) ini justru tidak ditemukan di padang pasir Timur Tengah. Penelusuran digital mengungkap sebuah fakta unik: tren viral ini justru lahir dan dibesarkan di jalanan kreatif Korea Selatan, membuktikan kembali betapa kuatnya pengaruh Negeri Ginseng dalam mendikte tren gaya hidup global.

Paradoks Nama dan Identitas Sang Dessert Viral

Nama "Dubai Chewy Cookie" mungkin memberikan kesan bahwa kudapan ini adalah oleh-oleh khas dari Uni Emirat Arab. Namun, para pencinta kuliner harus tahu bahwa ini adalah bentuk adaptasi kreatif atau fusion yang sangat cerdas. Sebagaimana tren Croffle yang sempat meledak beberapa waktu lalu, Korea Selatan kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam mengambil elemen ikonik dari budaya lain—dalam hal ini cita rasa khas Timur Tengah—dan mengemasnya menjadi sesuatu yang benar-benar baru, estetis, dan tentu saja, sangat Instagrammable.

Kue kering ini mendapatkan namanya bukan karena lokasi asal produksinya, melainkan karena penggunaan bahan-bahan premium yang identik dengan kemewahan kuliner Dubai. Perpaduan antara tekstur kue khas Barat yang kenyal (chewy) dengan isian yang terinspirasi dari bahan-bahan eksotis merupakan kunci utama mengapa makanan ini begitu cepat mencuri perhatian netizen di seluruh dunia.

Sentuhan Korea pada Isian Khas Timur Tengah

Apa yang membuat Dubai Chewy Cookie begitu istimewa hingga menjadi pembicaraan hangat di awal tahun 2026 ini? Rahasianya terletak pada kontras tekstur dan rasa. Jika kue kering biasa hanya mengandalkan cokelat chip, Dubai Chewy Cookie membawa pengalaman makan ke level yang berbeda dengan menyisipkan adonan pasta pistachio yang kental dan gurih.

Tidak hanya itu, elemen paling krusial yang membuatnya disebut "Dubai" adalah kehadiran kunafa atau kataifi. Bahan ini adalah untaian adonan kue tipis yang biasanya digoreng mentega hingga renyah. Di tangan para baker kreatif di Korea Selatan, kunafa renyah ini dicampur dengan krim pistachio dan dibungkus dalam adonan soft cookie cokelat yang tebal. Hasilnya adalah sensasi "kriuk" yang mengejutkan di tengah kelembutan kue, sebuah kombinasi yang sangat dicintai oleh lidah masyarakat modern.

Alasan Mengapa Korea Selatan Menjadi Tempat Kelahiran

Mungkin muncul pertanyaan, mengapa justru Korea Selatan yang melahirkan tren ini? Jawabannya terletak pada budaya kafe dan kecepatan adopsi tren di sana. Korea Selatan dikenal memiliki ekosistem industri makanan yang sangat kompetitif. Kafe-kafe di Seoul dan Busan selalu berlomba-lomba menciptakan menu yang unik agar viral di platform video pendek.

Para kreator konten di Korea Selatan sangat lihai dalam menggabungkan estetika visual dengan kelezatan rasa. Mereka melihat potensi besar dari popularitas cokelat Dubai yang orisinal, namun ingin menyajikannya dalam bentuk yang lebih praktis dan ramah di kantong, yaitu sebuah cookie. Inovasi inilah yang kemudian meledak secara organik, menyebar dari konten TikTok hingga menjadi menu wajib di berbagai gerai pastry ternama di tanah air.

Ekspansi Tren ke Indonesia dan Pasar Global

Fenomena Dubai Chewy Cookie tidak membutuhkan waktu lama untuk menyeberang ke Indonesia. Mengingat kedekatan selera masyarakat Indonesia terhadap kuliner Korea dan kecintaan terhadap rasa manis yang kompleks, kudapan ini langsung mendapatkan tempat di hati para foodies lokal. Banyak pengusaha kuliner rumahan hingga toko roti besar di Jakarta dan kota-kota besar lainnya mulai mengadaptasi resep viral tersebut.

Kekuatan tren ini juga didorong oleh pengalaman sensorik saat menyantapnya. Banyak ulasan di media sosial yang menonjolkan suara renyah kunafa saat kue dipatahkan, serta lelehan hijau dari pasta pistachio yang kontras dengan warna cokelat gelap dari adonan kuenya. Hal ini menciptakan konten visual yang sangat memuaskan (satisfying), yang secara tidak langsung memperpanjang umur tren ini di dunia maya.

Masa Depan Dessert Fusion dalam Budaya Pop

Lahirnya Dubai Chewy Cookie di Korea Selatan menjadi bukti bahwa batas-batas kuliner dunia kini semakin kabur. Sebuah makanan bisa memiliki nama dari satu wilayah, menggunakan bahan dari wilayah lain, dan diciptakan oleh orang dari wilayah yang berbeda sama sekali. Ini adalah era di mana kreativitas tidak lagi mengenal paspor.

Bagi Anda yang penasaran ingin mencicipinya, pastikan untuk memperhatikan kualitas bahan yang digunakan. Sebab, kunci kelezatan utama dari hidangan ini adalah pada kualitas kacang pistachio dan kerenyahan kataifi-nya. Meskipun lahir di Korea, jiwa dari kue ini tetaplah pada kemewahan rasa yang ditawarkannya, sebuah penghormatan manis bagi dunia kuliner Timur Tengah dalam bentuk yang lebih modern dan ringkas.

Dengan semakin banyaknya variasi yang muncul, tidak menutup kemungkinan akan ada adaptasi-adaptasi lain yang lebih lokal di masa depan. Namun untuk saat ini, Dubai Chewy Cookie buatan Korea tetap menjadi juara bertahan di jajaran dessert yang paling banyak dicari oleh masyarakat di tahun 2026.

Terkini